9. Ego Jinpachi Beri Nasehat Tentang Senjata Striker
Ego memberi tahu Tim Z bahwa menemukan senjata adalah syarat utama untuk menjadi striker. Setelah itu, senjata tersebut harus diasah dan ditingkatkan hingga mencolok. Ia mencontohkan Messi, yang memiliki dribel lincah dan tendangan kaki kiri dengan kecepatan luar biasa. Senjatanya yang unik membuat Messi menjadi salah satu top striker dunia. Namun, Ego menegaskan bahwa meniru Messi tidak akan membuat senjata seseorang bersinar.
Ego mengingatkan bahwa setiap individu memiliki senjata yang berbeda-beda, dan metode untuk mengasahnya juga berbeda. Ia meminta para peserta untuk memikirkan senjata yang mampu mengubah nol menjadi satu, harus dikombinasikan dengan elemen apa agar berevolusi?. Ego menekankan pentingnya menemukan gaya permainan sendiri dan membuat senjata mereka mencolok. Ia juga memperingatkan bahwa jika talenta tidak ditingkatkan, pada akhirnya hanya akan menjadi sampah.
10. Isagi Yoichi Dari Cupu Menjadi Suhu
Koun mengakhiri sesi latihan Tim Z, meminta rekan-rekannya untuk beristirahat dan mempersiapkan strategi untuk pertandingan melawan Tim W esok hari. Namun, Isagi tetap duduk sendirian di pinggir lapangan, merenungi perkataan Ego tentang pentingnya membuat senjata menonjol. Ia merasa bingung, karena senjatanya bukanlah sesuatu yang mudah dilihat seperti dribel atau tendangan.
Aroma gol yang Isagi “cium” hanya muncul pada momen-momen tertentu. Ia pun menyadari, meskipun tak tahu kapan senjatanya akan muncul, jika kehabisan stamina, itu semua akan sia-sia. Akhirnya, Isagi memahami bahwa cara mengasah senjatanya adalah dengan meningkatkan fisiknya agar bisa bereaksi cepat dan berlari selama 90 menit penuh.
Isagi mulai berlari untuk melatih staminanya. Melihatnya, para pemain Tim Z yang sebelumnya sudah bubar, ikut kembali berlatih. Mereka tak mau kalah setelah Isagi menjadi peringkat teratas di tim mereka. Dengan semangat yang tak mau dikalahkan, peserta Tim Z berlari untuk melatih stamina, menolak beristirahat. Hanya Chigiri yang beristirahat, menyaksikan rekan-rekannya berlarian dengan tekad yang membara.
Isagi merasa heran melihat rekan-rekannya kini mengikutinya, padahal dulu ia hanyalah striker yang tidak dikenal. Ia pernah berpikir karier sepakbolanya telah berakhir dan menangis sejadi-jadinya. Namun sekarang, setelah menjadi peringkat teratas Tim Z, ia merasa seperti terlahir kembali.
Dari layar televisi, Ego mengamati latihan Tim Z dan bergumam, “Saat seseorang yang dianggap cupu melampaui yang lain, tekad manusia akan berkobar. Ketika yang dianggap ‘cupu’ dalam tim menjadi menonjol, akan tercipta persaingan. Inilah Blue Lock, tempat paling intens untuk menciptakan striker nomor satu dunia.”