2. Boro Ahli Menipu
Boro menggunakan berbagai cara licik dan modus penipuan untuk mencapai tujuannya.
Code pernah menyindir Boro dengan bertanya, “Apa menyenangkan menipu orang?” Namun, Boro marah dan menjawab, “Jaga omonganmu, Code. Aku tidak menipu mereka!”
# Modus Penyelamat
Dengan kemampuan Senjata Sains Ninja, Boro menyebarkan kabut hitam ke sebuah desa dan menyebabkan penduduknya terinfeksi virus. Akibatnya, wabah penyakit menyebar, disertai gejala batuk-batuk, sulit bernapas, dan demam.
Penduduk desa, yang tidak lagi percaya kepada dokter karena merasa pengobatan hanya membuang-buang uang tanpa hasil, memilih mengurung diri di dalam rumah. Ketika keluar, mereka mengenakan masker untuk menghindari menghirup kabut hitam yang menyelimuti desa dan dapat menyebabkan infeksi.
Dalam situasi itu, Boro memanfaatkan rasa takut dan keputusasaan penduduk. Ia datang ke desa, menawarkan “penyembuhan” menggunakan antibodi tubuhnya. Penduduk yang berhasil sembuh merasa takjub dan mulai memercayai Boro sebagai penyelamat.
Boro kemudian menggiring penduduk dengan pidatonya agar bergabung ke dalam sekte yang dipimpinnya. Ia membujuk mereka untuk memujanya sebagai pemimpin kultus dan penyelamat dari dunia hina. Padahal, faktanya, Boro sendiri yang menyebarkan virus tersebut, sekaligus menjadi “penawar” melalui vaksinnya. Tujuan utamanya adalah merekrut orang-orang agar bergabung dengan sekte Otsutsuki.
Bagi Boro, virus ciptaannya adalah “keajaiban” yang dapat membimbing orang menuju jalan keselamatan.
Catatan: Di dalam kuil sekte Otsutsuki, terdapat sebuah mesin di ruang bawah tanah yang digunakan untuk memproduksi dan menyempurnakan virus. Ruangan ini juga menjadi tempat Boro mengisi ulang virus ke dalam tubuhnya.
# Modus Sekte Otsutsuki
Boro adalah pemimpin kultus sekte Otsutsuki, yang berpusat di kuil yang terletak di perbatasan lima negara besar. Kuil ini menjadi rumah bagi para pengikut Boro, yang kebanyakan berasal dari latar belakang kehidupan yang tragis, seperti kehilangan orang tercinta atau menderita penyakit parah.
Sebelum bergabung dengan sekte Otsutsuki, para pengikutnya memiliki kisah yang serupa: mereka menderita penyakit berat, lalu bertemu Boro, yang “menyembuhkan” mereka.
Layaknya sebuah ritual keagamaan, Boro selalu memberikan ceramah untuk menanamkan keimanan kepada para pengikutnya. Kehadirannya disambut dengan meriah, dan suasana kuil menjadi sakral. Dalam pidatonya, Boro mengaku ingin menyelamatkan semua jiwa tanpa memandang status kaya atau miskin.
Boro juga selalu menegaskan bahwa dunia ini adalah “sampah” yang penuh dengan kesengsaraan dan ketidakadilan. Ia menyalahkan para penguasa, yang dianggapnya tidak mampu memberikan pertolongan. Sebagai solusi, Boro menawarkan “cahaya Otsutsuki” melalui penyerahan jiwa kepada Mugen Tsukuyomi, yang disebutnya sebagai jalan menuju keselamatan.
Dalam ceramahnya, Boro sering menceritakan kisah Dewi Otsutsuki Kaguya yang datang ke bumi. Pada masa itu, semua orang, menurutnya, telah merasakan kedamaian abadi dengan menyerahkan jiwa mereka menjadi satu dengan Pohon Shinju. Namun, kedamaian itu hancur akibat ulah para Shinobi dari lima negara besar, yang membunuh Kaguya serta dua dewa lainnya, Otsutsuki Momoshiki dan Kinshiki.
Boro menegaskan bahwa para Shinobi telah memalsukan sejarah dan menyebut Mugen Tsukuyomi sebagai bencana. Untuk membenarkan tindakan jahat mereka, para Shinobi juga mengarang kebohongan demi keuntungan pribadi. Meski begitu, Boro meminta para pengikutnya untuk tidak khawatir, karena ia meyakinkan mereka bahwa Dewa Otsutsuki tidak akan meninggalkan sekte mereka dalam kesulitan. Ia juga menyebut bahwa masih ada dewa lain, yang diakuinya sering ia temui.
Boro mengklaim dirinya sebagai penyelamat dunia dan penolong bagi mereka yang putus asa melalui sekte Otsutsuki. Namun, kenyataannya, Boro hanya memanfaatkan para pengikut sektenya sebagai alat untuk mengumpulkan subjek uji klinis.
Secara khusus, Boro menipu pengikut sekte yang masih bocah dengan misi bertemu dewa. Padahal, ia melakukan eksperimen manusia untuk menemukan subjek yang cocok dijadikan “Wadah.” Begitu pula dengan Mugen Tsukuyomi yang disebutnya sebagai jalan menuju nirwana, kenyataannya adalah jalan menuju kehancuran dunia.
# Modus Mukjizat
Dalam menjalankan sekte Otsutsuki, Boro memiliki seorang asisten wanita bernama Inori. Inori sangat taat menjalankan ajaran Mugen Tsukuyomi di kuil dan bertugas mendampingi Boro, terutama saat mengunjungi desa-desa yang terkena wabah atau membimbing para pengikut baru.
Dahulu, Inori hampir putus asa karena penyakit yang tak kunjung sembuh. Namun, ia akhirnya “sembuh” setelah mengikuti ajaran Mugen Tsukuyomi atas petunjuk dari Boro.
Suatu hari, kakak Inori, yang merupakan seorang Shinobi, menerobos masuk ke kuil sekte Otsutsuki untuk membawanya pulang setelah dua tahun pergi. Sang kakak memperingatkan Inori bahwa Boro adalah penipu, dan memberitahunya bahwa ia sudah menemukan dokter yang mampu menyembuhkan penyakitnya.
Namun, Inori menolak ajakan kakaknya dan meminta sang kakak untuk pergi. Tak lama kemudian, Boro muncul. Sang kakak, yang sudah muak dengan ulah Boro, menuduhnya menipu orang-orang dengan cerita palsu tentang bertemu dewa. Dengan tenang, Boro menyatakan bahwa ia memang sudah bertemu dewa dan menerima mukjizat berupa tubuh yang tidak bisa dihancurkan. Ia bahkan menantang kakak Inori untuk membuktikan ucapannya.
Sang kakak kemudian menyerang Boro dengan Jutsu Pisau Air, yang berhasil membelah tubuh Boro menjadi dua. Namun, tubuh Boro segera kembali menyatu, membuat sang kakak syok dan ketakutan.
Boro mengaku bahwa kemampuan regenerasi tersebut adalah mukjizat dari dewa. Namun, kenyataannya, tubuh Boro telah dimodifikasi oleh Amado menggunakan Senjata Sains Ninja. Dengan modifikasi ini, ia mampu melakukan regenerasi super cepat dari kepala hingga kaki.