7. Pemberontakan
Sakamoto kemudian ditodong pistol di kepala, baik di sisi kanan maupun kirinya, oleh Hamdan dan Bahrun. Bahkan, Ismet juga menodongkan pistol ke kepala Wutang. Wutang menatap anak buahnya dengan penuh tanya, lalu bertanya kepada Ismet, “Kenapa kalian memberontak?”
Ismet menjawab dengan tegas, “Kami sudah muak dengan kepemimpinanmu. Harus menemanimu jauh-jauh dari Tiongkok ke Jepang hanya untuk main-main? Sebagai mafia, jika kami menginginkan sesuatu, seperti merebut Shaotang, kami hanya perlu merampasnya. Tidak perlu repot bermain-main seperti yang kau lakukan.” Semua mafia di ruangan itu mengangguk setuju dengan perkataannya.
Melihat Wutang yang tampak pasrah dan siap dibunuh di hadapan anak buahnya sendiri, Sakamoto menegurnya. “Apa kau menyerah secepat ini? Apa kau tak ingin terlihat keren di hadapan Shaotang—orang yang kau sukai?” Wutang tercengang. Kata-kata Sakamoto mengingatkannya pada Shaotang, yang pernah memuji kecerdasan otaknya.
Dalam keadaan berlutut dan ditodong dua pistol di kepalanya oleh anak buahnya sendiri, Wutang berbicara kepada Sakamoto. “Kau tak perlu sok menasihati,” ujarnya datar. Lalu, ia memberitahu anak buahnya, “Jika kalian menarik pelatuk itu, tangan kalian akan meledak,” katanya dengan nada tenang. Seisi ruangan sontak panik. Para mafia yang mengenal Wutang tahu betul bahwa ia selalu waspada dan penuh perencanaan.
Di tengah kepanikan yang membuat semua lengah, Sakamoto bergerak cepat. Dalam sekejap, ia memiting leher para mafia satu per satu hingga mereka pingsan. Ia kemudian meraih beberapa kartu poker dan melemparkannya seperti shuriken, membuat setelan jas para mafia tersobek.
Tak berhenti di situ, Sakamoto melempar tiga bola biliar ke udara, lalu menggunakan tongkat biliar untuk memukulnya dengan presisi. Bola-bola itu menghantam puluhan mafia, menjatuhkan mereka dalam sekali pukulan. Ia terus mengulang aksinya hingga semua mafia di ruangan tumbang.
Di sisi lain, Wutang menembakkan pistolnya ke arah Ismet, sengaja meleset, hanya untuk membuatnya semakin ketakutan. “Kalian semua bodoh! Apa kalian percaya begitu saja?” ujarnya tajam. “Gertakan adalah dasar keahlianku dalam berjudi.” Sakamoto pun baru menyadari bahwa Wutang telah berbohong. Skenario yang ia sebutkan sebelumnya—bahwa ia telah menyiapkan rencana jika anak buahnya memberontak dengan memasang pistol yang akan meledak saat pelatuknya ditekan—ternyata hanyalah gertakan semata.
Wutang kemudian menatap Sakamoto. Aku kalah dalam pertarungan kita, Sakamoto. Aku telah membuat Shaotang dalam bahaya… Aku tak pantas melindunginya. Sakamoto langsung memotong ucapannya.Aku tak paham soal pantas atau tidak, ujarnya, “tapi aku mengerti perasaan ingin melindungi seseorang yang kau sayangi.” Wutang terdiam, lalu tersenyum lega mendengar kata-kata Sakamoto.
8. Wutang Beritahu Informasi ke Sakamoto
Di toserba, Wutang memberi tahu Sakamoto bahwa orang yang telah menaruh bounty di kepala Sakamoto adalah Slur. Shin mengaku sudah mengetahui informasi itu, sementara Shaotang menanyakan lokasi Slur. Namun, Wutang mengaku tidak memiliki informasi lain mengenai Slur. Shaotang, Sakamoto, dan Shin merasa kecewa, seolah mereka telah membuang waktu bertarung dengan Wutang di kasino.
Wutang meminta mereka mendengarkan omongannya sampai selesai. Meskipun Slur penuh misteri, Wutang memiliki petunjuk tentangnya. Ia menceritakan bahwa beberapa hari lalu terjadi kasus pembunuhan di sebuah penjara di Asia Tenggara.
Empat tahanan yang divonis hukuman mati ditemukan tewas secara mengenaskan, bahkan salah satu jasadnya dikepal hingga menjadi bola kecil. Di dinding sel mereka, terdapat huruf “X” yang dilukis menggunakan darah—ciri khas Slur.
Berdasarkan informasi dari kenalan Wutang yang bekerja dalam jual beli mayat, baru-baru ini ditemukan beberapa jasad di Jepang yang tewas secara mengenaskan, dengan salah satu tubuhnya juga dikepal hingga menjadi bola kecil. Cara pembunuhannya mirip dengan empat tahanan yang dieksekusi di Asia Tenggara sebelumnya.
Wutang menyimpulkan bahwa keempat tahanan tersebut telah memalsukan kematian mereka dan kini bersembunyi di Jepang. Mendengar hal itu, Sakamoto, Shin, dan Shaotang tercengang dan mulai memikirkan sesuatu.